Kenapa Waktu Terasa Semakin Cepat Saat Kita Bertambah Dewasa?

Ketika masih kecil, liburan sekolah selama beberapa minggu bisa terasa sangat panjang. Menunggu ulang tahun berikutnya seolah membutuhkan waktu yang tidak ada habisnya. Bahkan satu tahun ajaran terasa seperti periode yang sangat besar dalam kehidupan.

Namun ketika semakin dewasa, pengalaman tersebut sering berubah. Senin baru saja dimulai, tiba-tiba sudah akhir pekan. Rasanya baru beberapa bulan lalu merayakan tahun baru, tetapi kalender sudah mendekati akhir tahun lagi.

Jam tentu tidak bergerak lebih cepat. Satu menit tetap terdiri dari 60 detik. Yang berubah adalah bagaimana manusia mengalami dan mengingat perjalanan waktu. Fenomena persepsi waktu ini berkaitan dengan perhatian, rutinitas, pengalaman baru, hingga bagaimana memori kita terbentuk.

Waktu di Jam dan Waktu di Pikiran Tidak Selalu Sama

Secara objektif, waktu dapat diukur dengan cukup konsisten.

Lima menit tetap lima menit.

Namun lima menit yang kita rasakan dapat sangat berbeda.

Bayangkan menunggu seseorang yang terlambat tanpa melakukan apa pun. Lima menit mungkin terasa panjang.

Sekarang bandingkan dengan lima menit terakhir ketika sedang bermain game, berbicara dengan seseorang yang menyenangkan, atau menyelesaikan pekerjaan sebelum deadline.

Waktu yang sama dapat terasa jauh lebih singkat.

Artinya, otak manusia tidak mengalami waktu seperti stopwatch.

Perhatian dan aktivitas yang sedang dilakukan ikut memengaruhi pengalaman tersebut.

Satu Tahun Terasa Berbeda pada Usia yang Berbeda

Ada penjelasan populer yang melihat waktu sebagai proporsi dari kehidupan yang sudah dijalani.

Bagi anak berusia 5 tahun, satu tahun merupakan bagian yang sangat besar dibanding seluruh hidupnya sejauh itu.

Bagi seseorang berusia 30 tahun, satu tahun merupakan bagian yang jauh lebih kecil dari total pengalaman hidupnya.

Perspektif tersebut dapat membantu menggambarkan kenapa periode yang sama terasa berbeda pada usia yang berbeda.

Namun persepsi waktu manusia lebih kompleks daripada sekadar perbandingan matematika. Rutinitas, perhatian, emosi, dan memori juga memiliki peran besar.

Masa Kecil Dipenuhi Banyak Pengalaman Pertama

Coba ingat masa sekolah.

Hari pertama masuk sekolah.

Pertama kali naik sepeda.

Pertama kali pergi tanpa orang tua.

Pertama kali memiliki teman dekat.

Pertama kali mengunjungi kota lain.

Ketika masih muda, kehidupan dipenuhi pengalaman yang benar-benar baru.

Otak harus memperhatikan banyak detail karena belum memiliki pola yang familiar untuk memahami situasi tersebut.

Pengalaman baru juga dapat menghasilkan memori yang lebih khas.

Ketika melihat kembali periode yang memiliki banyak kejadian berbeda, masa tersebut dapat terasa kaya dan panjang.

Rutinitas Membuat Hari Terasa Mirip

Ketika dewasa, kehidupan sering menjadi lebih terstruktur.

Bangun.

Bersiap.

Pergi bekerja.

Pulang.

Makan.

Melihat ponsel.

Tidur.

Kemudian pola yang hampir sama terjadi keesokan harinya.

Rutinitas tentu tidak buruk. Kita membutuhkan pola agar kehidupan tidak menghabiskan energi untuk mengambil keputusan kecil setiap saat.

Namun ketika banyak hari memiliki struktur yang hampir identik, jumlah kejadian yang benar-benar menonjol dalam ingatan dapat berkurang.

Akibatnya, ketika melihat kembali beberapa bulan terakhir, periode tersebut dapat terasa seperti berlalu sangat cepat.

Ada Perbedaan antara Mengalami dan Mengingat Waktu

Ini bagian yang menarik.

Sebuah periode dapat terasa cepat ketika sedang dijalani tetapi terasa panjang ketika diingat kembali.

Bayangkan pergi berlibur ke tempat yang belum pernah dikunjungi.

Sepanjang perjalanan, waktu mungkin terasa berlalu cepat karena kita menikmati aktivitas.

Namun setelah pulang, beberapa hari tersebut dapat menghasilkan banyak kenangan: tempat baru, makanan berbeda, orang yang ditemui, jalan yang dilewati, dan berbagai pengalaman lainnya.

Ketika mengingatnya kembali, perjalanan terasa penuh.

Sebaliknya, minggu yang dipenuhi rutinitas mungkin terasa biasa ketika dijalani dan hampir tidak meninggalkan banyak titik memori yang berbeda.

Pengalaman Baru Membuat Memori Lebih Kaya

Kita tidak harus melakukan perjalanan ke negara lain untuk mendapatkan pengalaman baru.

Perubahan kecil juga dapat memberikan variasi.

Mencoba rute berbeda menuju tempat kerja.

Memasak makanan yang belum pernah dibuat.

Belajar keterampilan baru.

Mengunjungi tempat yang belum pernah didatangi di kota sendiri.

Berbicara dengan orang baru.

Membaca topik yang biasanya tidak kita pilih.

Aktivitas seperti ini memberikan lebih banyak informasi yang perlu diproses dibanding melakukan rutinitas yang sepenuhnya familiar.

Ketika periode kehidupan memiliki lebih banyak peristiwa yang dapat dibedakan, ingatan terhadap periode tersebut juga menjadi lebih kaya.

Smartphone Bisa Membuat Kita Kehilangan Jejak Waktu

Pernah membuka ponsel hanya untuk memeriksa satu pesan kemudian menyadari 30 menit sudah berlalu?

Aplikasi digital dirancang untuk memberikan banyak informasi dalam waktu singkat.

Satu video berganti video lain.

Satu posting membawa kita ke posting berikutnya.

Perhatian terus berpindah tetapi aktivitas fisiknya hampir tidak berubah.

Kita mendapatkan banyak stimulus tanpa selalu menciptakan memori yang kuat mengenai apa yang sebenarnya dilakukan.

Setelah selesai scrolling, terkadang sulit menjelaskan ke mana waktu tadi digunakan.

Ini bukan berarti menggunakan media sosial selalu buruk. Namun penggunaan otomatis tanpa tujuan dapat membuat waktu berlalu tanpa banyak disadari.

Fokus Memengaruhi Bagaimana Waktu Terasa

Ketika sangat memperhatikan waktu, durasinya cenderung terasa lebih panjang.

Misalnya menunggu microwave selama satu menit sambil melihat angka countdown.

Satu menit tersebut dapat terasa cukup lama.

Bandingkan dengan satu menit ketika sedang berbicara dengan teman.

Kita bahkan mungkin tidak menyadarinya.

Perhatian manusia memiliki kapasitas terbatas.

Jika fokus diarahkan pada aktivitas, perhatian terhadap perjalanan waktu berkurang.

Sebaliknya, ketika tidak ada banyak hal yang menarik perhatian, kita lebih mudah menyadari setiap detik yang lewat.

Emosi Juga Bisa Mengubah Persepsi Waktu

Pengalaman emosional dapat memengaruhi bagaimana sebuah kejadian dirasakan.

Situasi yang menegangkan terkadang terasa berjalan lambat ketika sedang terjadi.

Sementara aktivitas yang menyenangkan sering terasa berakhir terlalu cepat.

Itulah asal pengalaman familiar seperti:

“Sudah dua jam? Rasanya baru sebentar.”

Perubahan tersebut tidak terjadi pada jam.

Yang berubah adalah jumlah perhatian yang diberikan otak terhadap aktivitas, lingkungan, dan perjalanan waktu itu sendiri.

Kenapa Tahun-Tahun Terakhir Sering Terasa Menyatu?

Semakin banyak rutinitas yang sama dilakukan, semakin sedikit penanda unik yang membedakan satu periode dengan periode lain.

Misalnya kita mungkin dapat mengingat dengan jelas tahun ketika pindah rumah, mulai bekerja di tempat baru, atau melakukan perjalanan besar.

Tetapi tahun yang tidak memiliki banyak perubahan terkadang lebih sulit dibedakan.

Peristiwa penting berfungsi seperti penanda dalam timeline pribadi.

Tanpa banyak penanda, beberapa bulan atau bahkan tahun dapat terasa menyatu ketika dilihat kembali.

Inilah salah satu hubungan menarik antara cara otak mengingat waktu dengan pengalaman sehari-hari.

Bisakah Kita Membuat Hidup Terasa Lebih Panjang?

Kita tentu tidak dapat memperlambat jam.

Namun kita dapat membuat pengalaman hidup terasa lebih kaya.

Caranya tidak harus dengan terus mencari aktivitas ekstrem.

Yang lebih penting adalah mengurangi kehidupan yang sepenuhnya berjalan secara otomatis.

Sesekali ubah rutinitas.

Pelajari sesuatu.

Pergi ke tempat baru.

Buat proyek kecil.

Habiskan waktu dengan orang yang penting.

Berikan perhatian penuh pada aktivitas tertentu tanpa terus berpindah ke layar.

Tujuannya bukan memenuhi setiap menit dengan kegiatan.

Justru waktu kosong dan istirahat tetap penting.

Yang ingin dihindari adalah melewati berbulan-bulan tanpa benar-benar menyadari apa yang dilakukan.

Foto Membantu Mengingat tetapi Jangan Hanya Melihat Lewat Kamera

Mengambil foto dapat menjadi cara menyimpan penanda sebuah pengalaman.

Ketika melihatnya kembali, detail yang sebelumnya terlupakan dapat muncul.

Namun ada keseimbangan yang perlu dijaga.

Jika seluruh perhatian digunakan untuk mengambil gambar, memilih angle, dan mengunggahnya, kita mungkin kurang memperhatikan pengalaman yang sedang terjadi.

Sesekali ambil foto.

Kemudian simpan ponsel dan lihat langsung apa yang berada di depan mata.

Kenangan tidak hanya dibentuk oleh apa yang berhasil direkam kamera.

Rutinitas Tetap Penting

Pembahasan mengenai pengalaman baru bukan berarti kita harus menghindari rutinitas.

Rutinitas membantu kehidupan menjadi teratur.

Tidur pada waktu tertentu, olahraga, bekerja, membersihkan rumah, atau menjalankan kebiasaan lainnya dapat memberikan stabilitas.

Yang dapat dilakukan adalah memasukkan sedikit variasi di antara rutinitas tersebut.

Sebagian kehidupan dapat tetap dapat diprediksi, sementara sebagian lainnya memberikan ruang untuk eksplorasi.

Keduanya tidak harus saling bertentangan.

Mungkin Waktu Tidak Semakin Cepat

Ketika mengatakan “tahun ini cepat sekali,” sebenarnya kita sedang berbicara mengenai pengalaman terhadap waktu, bukan waktu itu sendiri.

Jam bergerak seperti biasa.

Namun kehidupan dewasa sering memiliki lebih banyak rutinitas, lebih sedikit pengalaman pertama, dan banyak aktivitas yang dilakukan hampir otomatis.

Ketika menoleh ke belakang, jumlah memori yang benar-benar menonjol dapat terasa lebih sedikit.

Mungkin kita tidak membutuhkan cara untuk memperlambat waktu.

Kita hanya perlu menciptakan lebih banyak alasan untuk menyadari bahwa waktu tersebut sedang berjalan.

Karena pada akhirnya, panjangnya sebuah periode dalam ingatan tidak hanya ditentukan oleh berapa hari yang telah berlalu, tetapi juga oleh berapa banyak kehidupan yang benar-benar kita perhatikan di dalamnya.

Categories: Mobile Games